Rabu, 30 November 2016

HIV/AIDS DALAM KEHAMILAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
Sejak ditemukannya infeksi human immunodeficiency virus (HIV) pada tahun 1982, penelitian semakin banyak dilakukan dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan dunia. Terdapat sekitar lima jenis HIV dengan bentuk infeksi terakhir disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga member kesempatan berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan, kemunduran kemampuan intelektual, dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, protozoa, jamur serta terjadi degenerasi ganas. Penelitian telah dilakukan sejak HIV pertama kali ditemukan, tetapi sampai saat ini obatnya belum ditemukan sehingga bila terinfeksi virus HIV berarti sudah menuju kematian. Obat yang tersedia sekedar untuk mempertahankan atau memperpanjang usia, bukan untuk membunuh virus HIV.
Orang-orang yang terinfeksi positif  HIV yang mengetahui status mereka mungkin dapat memberikan manfaat. Namun, seks tanpa perlindungan antara orang yang yang berisiko membawa HIV sero-positif sebagai super infeksi, penularan infeksi seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan dapat membuat penurunan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini jelas bahwa banyak pasangan yang harus didorong untuk melakukan tes HIV untuk memastikan status mereka dengan asumsi bahwa mereka mungkin terinfeksi karena pernah memiliki hubungan seksual denga seseorang yang telah diuji dan ditemukan seropositif HIV.
Komunikasi seksualitas antara orangtua dan anak telah diidentifikasi sebagai factor pelindung untuk seksual remaja dan kesehatan reproduksi, termasuk infeksi HIV. Meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi remaja merupakan prioritas dunia. Intervensi yang bertujuan untuk menunda perilaku seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual dan meningkatkan penggunaan kondom. Dari penelitian yang dilakukan di negara berkembang menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas memiliki potensi untuk memberikan dampak positif pada pengetahuan, sikap, norma dan niat, meskipun mengubah perilaku seksual sangat terbatas.
Evolusi infeksi HIV menjadi penyakit kronis memiliki implikasi di semua pengaturan perawat klinis. Setiap perawat harus memiliki perawatan klinis. Setiap perawat harus memiliki pengetahuan tantang pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kronisitas dari penyakit &memberikan perawatan yang berkualitas kepada orang dengan atau berisiko HIV
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa defenisi HIV/AIDS ?
2.      Apa penyebab HIV/AIDS pada ibu hamil ?
3.      Bagaimana patofisiologi HIV/AIDS pada ibu hamil?
4.      Bagaimana cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi ?
5.      Apa faktor risiko HIV/AIDS pada ibu hamil?
6.      Sebutkan pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada ibu hamil?
7.      Sebutkan penatalaksanaan HIV/AIDS pada ibu hamil?
8.      Bagaimana pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil?
9.      Bagaimana Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS ?
10.  Bagaimana Upaya Preventif penanggulangan HIV/AIDS oleh pemerintah ?
1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian HIV/AIDS pada ibu hamil
2.      Untuk mengetahui penyebab/etiologi HIV/AIDS pada ibu hamil
3.      Untuk mengetahui patofisiologi HIV/AIDS pada ibu hamil
4.      Untuk mengetahui cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi.
5.      Untuk mengetahui factor risiko HIV/AIDS pada ibu hamil
6.      Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada ibu hamil
7.      Untuk mengetahui penatalaksaan HIV/AIDS pada ibu hamil
8.      Untuk mengetahui pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil
9.      Untuk mengetahui Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
10.  Untuk mengetahui Upaya preventif penanggulangan HIV/AIDS oleh pemerintah.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Defenisi HIV/AIDS
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsinya. Selama infeksi berlangsung, sistem kekebalan  tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tahap yang lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Hal ini dapat memakan waktu 10-15 tahun untuk orang yang terinfeksi HIV hingga berkembang menjadi AIDS, obat antiretroviral dapat memperlambat proses lebih jauh. HIV ditularkan melalui hubungan seksual (anal atau vaginal), transfusi darah yang terkontaminasi, berbagi jarum yang terkontaminasi, dan antara ibu dan bayinya selama kehamilan, melahirkan dan menyusui.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare). AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut. (Kamus kedokteran Dorlan, 2002).
AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. (Menurut Center for Disease Control and Prevention).
Wanita hamil lebih berisiko tertular Human Immunodeficien Virus (HIV) dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Jika HIV positif, wanita hamil lebih sering dapat menularkan HIV kepada mereka yang tidak terinfeksi daripada wanita yang tidak hamil.
Menurut laporan CDR (Center for Disease Control) Amerika mengemukakan bahwa jumlah wanita penderita AIDS di dunia terus bertambah, khususnya pada usia reproduksi. Sekitar 80% penderita AIDS anak-anak mengalami infeksi prenatal dari ibunya. Seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah 0,0-1,7%, saat persalinan 0,4-0,3% dan 9,4-29,6% pada ibu hamil yang biasa menggunakan narkotika intravena.
Wanita usia produktif merupakan usia yang berisiko tertular infeksi HIV. Dilihat dari profil umur, ada kecendrungan bahwa infeksi HIV pada wanita mengarah ke umur yang lebih  muda, dalam arti bahwa usia muda lebih banyak terdapat wanita yang terinfeksi, sedangkan pada usia di atas 45 tahun infeksi pada wanita lebih sedikit. Dilain pihak menurut para ahli kebidanan bahwa usia reproduktif merupakan usia wanita yang lebih tepat untuk hamil dan melahirkan. Hasil survey di Uganda pada tahun 2003 mengemukakan bahwa prevalensi HIV di klinik bersalin adalah 6,2%, dan satu dari sepuluh orang Uganda usia antara 30-39 tahun positif HIV-AIDS perlu diwaspadai karena cenderung terjadi pada usia reproduksi.
2.2  Etiologi HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV.
Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.
Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya ;
1.         Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual).
2.         Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.
3.         Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4.         Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan orang yang terinfeksi HIV.
5.         Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.
2.3  Patofisiologi HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Kehamilan merupakan usia yang rawan tertular HIV-AIDS. Penularan HIV-AIDS pada wanita hamil terjadi melalui hubungan seksual dengan suaminya yang sudah terinfeksi HIV. Pada negara berkembang istri tidak berani mengatur kehidupan seksual suaminya di luar rumah. Kondisi ini dipengaruhi oleh sosial dan ekonomi wanita yang masih rendah, dan isteri sangat percaya bahwa suaminya setia, dan lagi pula masalah seksual masih dianggap tabu untuk dibicarakan.
Virus HIV tergolong retrovirus, yang merupakan standar RNA, tunggal terbungkus. Bila memasuki tubuh, virus akan melekat pada reseptor CD4 sel terinfeksi. Kemudian virus mempergunakan enzim reverse transcriptase, yang mampu membentuk DNA ganda. Standar DNA ganda ini mampu masuk sirkulasi sel menuju intinya dan bersatu dengan DNA inti sel yang asli. DNA virus dapat membentuk RNA yang terinfeksi dan RNA yang akan membawa tanda (berita) sehingga dapat membentuk protein.
Pertumbuhan virus HIV terbatas pada limfosit, monosit, makrofag, dan sumber pembentuk sum-sum tulang tertentu. Secara intraseluler, virus dapat memecah diri sehingga setelah selnya hancur dapat dikeluarkan virus HIV baru yang akan menyerang sel lainnya. Bentuk virus HIV selalu berubah-ubah, sesuai dengan sel yang diserangnya sehingga sulit untuk membuat antibody atau antigen agar mampu membuat vaksinnya. Oleh karena itu, obatnya masih sulit untuk dibuat sampai saat ini.

2.4  Penularan HIV dari Ibu kepada Bayinya
      Cara penularan virus HIV-AIDS pada wanita hamil dapat melalui hubungan seksual. Salah seorang peneliti mengemukakan bahwa penularan dari suami yang terinfeksi HIV ke isterinya sejumlah 22% dan istri yang terinfeksi HIV ke suaminya sejumlah 8%. Namun penelitian lain mendapatkan serokonversi (dari pemeriksaan laboratorium negatif menjadi positif) dalam 1-3 tahun dimana didapatkan 42% dari suami dan 38% dari isteri ke suami dianggap sama.
      Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode :
1.      Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a)      Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
b)      Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
c)      Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
d)     Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.
2.      Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria. Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah: Lama robeknya membran.
a)      Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya).
b)      Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya, episiotomi.
c)      Anak pertama dalam kelahiran kembar
3.      Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
a)      Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
b)      Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara lainnya.
c)      Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
d)     Status gizi ibu yang buruk.
2.5  Faktor Resiko HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Semula diperkirakan factor risiko infeksi HIV hanya homoseksual, dan pengguna narkoba yang menggunakan suntikan terinfeksi, tetapi jumlahnya semakin besar. Infeksi HIV terutama menyerang sel T limfosit dan system saraf pusat. Cara masuknya ke dalam sel mulai dengan ikatan reseptornya pada sel lomfosit dan diikuti rusaknya inti kemudian memecahkan dirinya menjadi beberapa virus HIV. Secara berabtai, virus HIV kembali akan menyerang sel lomfosit CD4 sehingga akhirnya terjadi penurunan daya tahan tubuh secara menyeluruh dan disebut acquired immunodefeciency syndrome (AIDS).
Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV sebagai berikut :
1.      Janin dengan ibu yang terjangkit HIV
2.      Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
3.      Pekerja seks komersial
4.      Pasangan yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin

2.6  Pemeriksaan Penunjang HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
      Tes-tes saat ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan tes negatif pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba mengembangkan prosedur siap pakai yang tidak mahal untuk membedakan respons antibody bayi dan ibu.
1.      Pemeriksaan histologis, sitologis urin , hitung darah lengkap, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi.
2.      Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
3.      Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy; branskokopi.
4.      Tes Antibodi
5.      Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
6.      Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan memastikan seropositifitas HIV.
7.      Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
8.      Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
2.7  Penatalaksanaan HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
      Pengalaman program yang signifikan dan bukti riset tentang HIV dan pemberian makanan untuk bayi telah dikumpulkan sejak rekomendasi WHO untuk pemberian  makanan bayi dalam konteks HIV terakhir kali direvisi pada tahun 2006. Secara khusus, telah dilaporkan bahwa antiretroviral (ARV) intervensi baik ibu yang terinfeksi HIV atau janin yang terpapar HIVsecara signifikan dapat  mengurangi risiko penularan HIV pasca kelahiran melalui menyusui. Bukti ini memiliki implikasi besar untuk bagaimana perempuan yang hidup dengan HIV mungkin dapat memberi makan  bayi mereka, dan bagaimana para pekerja kesehatan harus nasihati ibu-ibu ini. Bersama-sama, intervensi ASI dan ARV memiliki potensi secara signifikan untuk meningkatkan peluang bayi bertahan hidup sambil tetap tidak terinfeksi HIV.
      Dimana otoritas nasional mempromosikan  pemberian ASI dan ARV, ibu yang diketahui terinfeksi HIV sekarang direkomendasikan untuk menyusui bayi mereka setidaknya  sampai usia 12 bulan. Rekomendasi bahwa makanan pengganti tidak boleh digunakan kecuali jika dapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan dan aman (AFASS).
      Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang bisa dipilih untuk negara berkembang adalah Nevirapine, pada saat ibu saat persalinan diberikan 200mg dosis tunggal, sedangka bayi bisa diberikan 2mg/kgBB/72 jam pertama setelah lahir dosis tunggal. Obat lain yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu 2x300mg/hari dan 300mg setiap jam selama persalinan berlangsung.
      Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) maka terapinya yaitu :
1.      Pengendalian infeksi oportunistik. Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti, nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
2.      Terapi AZT (Azidotimidin). Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat enzim pembalik transcriptase.
3.      Terapi antiviral baru. Untuk meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus pada proses nya. Obat- obat ini adalah : didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
4.      Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.
5.      Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi HIV.
6.      Rehabilitas. Bertujuan untuk memberi dukungan mental-psikologis, membantu mengubah perilaku risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh sehat.
7.      Pendidikan. Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imun. Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.


2.8  Pencegahan HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
        Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut yaitu:
        Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru dilahirkan. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2–3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen.
        Penanganan obstetrik selama persalinan. Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena metode ini terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
        Penatalaksanaan selama menyusui. Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa ± 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.
2.9  Asuhan Kebidanan pada ibu dengan HIV/AIDS
Pemeriksa :
Jam :
Tempat :
Tanggal :
1.      Pengkajian data
Data Subjektif (DS)
(1)   Identitas ibu hamil dan suami
Nama               :  Mengantisipasi keslahan pemberian asuhan
Umur               :  HIV pada ibu hamil tidak ada batasan usia
Pendidikan      :  Tingkat pendidikan ibu
Pekerjaan         :  Tingkat perekonomian dan pekerjaan merupakan factor resiko terinfeksi HIV. Pekerjaan merupakan resiko tinggi HIV/AIDS adalah pekerja seks, pelaut, dsb.
Alamat                        :
(2)   Keluhan Utama
Keluhan yang paling sering terjadi pada pasien hamil dengan HIV/AIDS adalah selain keluhan sehubungan dengan kehamilannya, ibu juga mengeluh berbagai masalah sesuai dengan stadium).
a.       Stadium Klinis 1
·         Asimtomatis
·         Limpadenopati persistent generalisata
·         Penampilan atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.
b.      Stadium Klinis 2
·         Penurunan berat badan, 10% dari berat badan sebelumnya.
·         Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada kuku, ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis angularis)
·         Herpes Zoster, dalam 5 tahun terakhir.
·         Infeksi berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis bakterial)
·         Dengan atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas normal.
c.       Stadium Klinis 3
·         Penurunan berat badan >10%
·         Diare kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bln
·         Demam dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau tetap), >1 bulan
·         Kandidiasis oris
·         Oral hairy leukoplakia
·         TB pulmoner, dalam 1 tahun terakhir.
·         Infeksi bakterial berat (misal : pneumonia, piomiositis)
·         Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di tempat tidur, <50% perhari dalam bulan terakhir.
d.      Stadium Klinis 4
·         HIV wasting syndrome, sesuai yang ditetapkan CDC
·         PCP (pneumocytis carinii pneumonia)
·         Ensefalitis toksoplasmosis
·         Cryptococcosis ekstrapulmoner
·         Infeksi virus sitomegalo
·         Infeksi herper simpleks >1 bulan
·         Berbagai infeksi jamur berat.
·         Kandidiasis esofagus, trachea atau bronkhus
·         Mikobakteriosis atypical
·         Salmonelosis non tifoid disertai setikemia
·         TB, ekstrapulmoner
·         Limfoma maligna
·         Sarkoma kaposi’s
·         Ensefalopati HIV
·         Dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada di tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir (Fazidah, 2004).
(3) Riwayat Obstetri:
a.       Riwayat menstruasi
Fluor albus : banyak, gatal , berbau, warna hijau. Pada ibu dengan HIV mudah terkena infeksi jamur yang bila mengenai organ genital bisa menyebabkan keputihan.
b.      Riwayat Obstetri lalu
Kehamilan yang lalu terinfeksi HIV, ibu dapat bersalin dengan SC.
c.       Riwayat Kehamilan Sekarang :
Keluhan pada trimester I ,II, atau III pada ibu hamil dengan HIV seperti keluhan ibu hamil normal terkadang dijumpai keluhan berdasarkan stadium HIV/AIDS:
Trimester I       : Chloasma gravidarum, mual dan muntah (akan hilang pada kehamilan 12-14 minggu) sering kencing, pusing, ngidam, obstipasi.
Trimester II     : Body image dan nafsu makan bertambah.
Trimester III    : Sering kencing, obstipasi, sesak nafas (bila tidur telentang) sakit punggung, oedema, varices.

d.      Riwayat perkawinan
Hamil dengan HIV biasanya ibu atau suami menikah lebih dari satu kali atau mempunyai banyak pasangan.
e.       Riwayat kesehatan ibu
Pada ibu dengan HIV biasanya penyakit yang diderita beragam, antara lain : demam, faringitis, limfadenopati, artralgia, mialgia, letargi, malaise, nyeri kepala, mual, muntah, diare, anoreksia, penurunan berat badan. Dapat juga menimbulkan kelainan saraf, seperti meningitis, ensefaliits, neuropati perifer dan mielopati. Gejala pada dermatologi yaitu ruam makropapulereritematosa dan ulkus makokutan
Pada beberapa pasien terdapat sarkoma kaposi’s, herpes simpleks, sinusitis bakterial, herpes Zooster dan peneumonia yang berlangsung tidak terlalu lama. Fase ini berlangsung sekitar 8-10 tahun (dapat 3-13 tahun) setelah terinfeksi HIV. Pada tahun kedelapan setelah terinfeksi HIV akan muncul gejala klinis yaitu demam, banyak berkeringat pada malam hari, kehilangan berat badan kurang dari 10%, diare, lesi pada mukosa dan kulit berulang, penyakit infeksi kulit berulang. Gejala ini merupakan tanda awal munculnya infeksi oportunistik.
Selain itu terdapat juga pneumonia carinii, tuberkulosis, sepsis, toksoplamosis ensefalitis, diare akibat kriptosporidiasis, infeksi virus sitomegalo, infeksi virus herpes, kandisiasis esofagus, kandisiasis trakhea, kandisiasis bronkhus atau paru serta infeksi jamur jenis lain seperti histoplamosis, koksidiodomikosis. Kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker, yaitu kanker kelenjar getah bening dan kanker sarkoma kaposi’s (Nasronudin, 2007).
f.       Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit HIV dapat diturunkan oleh orangtua ataupun ditularkan oleh suami penderita.
g.      Pola fungsional kesehatan
a)      Pola Nutrisi :
pada pasien HIV pola makan harus dijaga untuk menghindari terjadinya infeksi oportunistik.
Wanita dewasa memerlukan 2.500 Kalori per hari, jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan pada ibu hamil adalah 300 kalori per hari, dengan komposisi menu seimbang (cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air) (Nakita, 2014). Pada pasien HIV yang mengalami ulserasi mukosa oral terjadi gangguan pemenuhan nutrisi karena ketidaknyamanan/sakit saat makan.
b)      Pola Eliminasi :
BAK : dalam batas normal (1cc kg/jam)
BAB teratur tiap hari 1x
Pada stadium HIV lanjut ( stadium III dan IV) Ibu dapat mengalami diare akut atau
c)      Pola Istirahat :
Pada stadium lanjut HIV ibu membutuhkan istirahat, selalu berada di tempat tidur > 50% per hari dalam bulan terakhir.
d)     Pola Aktivitas :
Stadium 1 : penampilan atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.
Stadium 2 : dengan atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas normal.
Stadium 3 : dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di tempat tidur, <50% perhari dalam bulan terakhir.
Stadium 4 : dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada di tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir (Fazidah, 2004).
e)      Aktivitas Seksual
Seberapa sering aktivitas sex yang dilakukan ibu dan suami sebelum dan selama kehamilan. Mungkin ditemukan adanya penurunan aktivitas seksual utamanya pada mereka yang sudah berada pada stadium lanjut. disarankan untuk menggunakan kondom bila suami HIV negatif dikarenakan kondom dapat mencegah penularan HIV.

f)       Pola Kebiasaan
Merokok
Minum Alkohol
Mengkonsumsi Narkoba : Pemakaian narkoba dengan suntik atau obat-obatan terlarang lainya yang dapat meningkatkan resiko terkena HIV AIDS.
Minum Jamu-jamuan
Memelihara binatang peliharaan : (rantai penularan toxoplasmosis yang dapat memperburuk HIV/AIDS dalam perkembangan janin)
h.      Riwayat PsikoSosial Budaya
Perkawinan ibu dengan HIV seringkali ditemui dengan ibu atau suami menikah lebih dari sekali. Perencanaan kehamilan akan berpengaruh pada penerimaan ibu dan keluarga terhadap kehamilan ini dan bayinya nantinya, ibu merasa gelisah dan cemas apabila keluhan yang dirasakan oleh ibu akan mengganggu kehamilannya.
Data Obyektif (DO)
(1)   Pemeriksaan Umum
·         TD : Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan tekanan darah dengan ibu hamil normal. Normal antara 100/60-140/90 mmHg
·         Suhu : Suhu pada ibu hamil dengan HIV pada fase akut dan fase laten akan mengalami demam. Normal antara 360C – 370C (Nasronudin, 2007).
·         Nadi : Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan jumlah nadi dengan ibu hamil normal. Nadi normal antara 80-110 x/menit
·         RR : Pada ibu dengan HIV tidak ada peningkatan jumlah pernapasan. Normal 16-20 x/menit.
·         Berat badan sebelum hamil: Penimbangan berat badan harus terus dipantau. Pada penderita HIV pada fase infeksi laten mengalami penurunan berat badan 10% (Nasronudin, 2007).
·         Berat badan sekarang: Mulai stadium II ibu mengalami penurunan BB akan tetapi <10 Kg, sedangkan pada stadium III dan IV penurunan berat badan > 10 Kg.


(2) Pemeriksaan Fisik
Muka


Mulut
:
Mukosa bibir kering, caries gigi. Pada pasien HIV stadium klinis 2 terjadi ulserasi mukosa berulang. Pada stadium klinis 3 terdapat kandidiasis oris (pada rongga mulut terdapat pseudomembran yang berwarna putih krem sampai keabu-abuan. Periksa adanya leukoplakia (plak putih di sekitar rongga mulut) (Nasronudin, 2007).
Dada
:
Ada tarikan dinding dada. Ada ronchi dan wheezing sebagai indikasi kelainan organ pernafasan ( apabila sudah terjadi TB pulmonar dan PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia) manifestasi dari HIV/AIDS.
Pada pasien HIV mulai stadium 1 terdapat limpadenopati (pembengkakan kelenjar limfe) (Nasronudin, 2007).
Abdomen
:
Ada luka bekas SC apabila ibu persalinan yang lalu mengidap HIV mencegah penularan ibu ke bayi.
Pembesaran uterus terkadang tidak sesuai dengan umur kehamilan. Hal tersebut dikarenakan adanya infeksi HIV menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin.
Ekstrimitas
:
Atas : tidak ada oedema
Bawah : tidak ada varises
Pada stadium II terlihat luka infeksi/ ulkus pada kuku.
Kulit
:
Kadang ditemukan tanda-tanda dermatitis, herpes zoster, prurigo, dan kelainan kulit lainnya akibat infeksi jamur.
Genetalia
:
Vulva dan vagina
Keluaran : Pada wanita hamil sering mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Keadaan ini dalam batas normal (tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal). Pada ibu hamil dengan HIV memungkinkan adanya infeksi candida yang menyebabkan flour albus (Nasronudin, 2007).
3) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lab
Pemeriksaan HIV
Saat ini ada 2 standar untuk melakukan uji HIV yaitu dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Apabila setelah melakukan uji ELISA hasilnya positif maka penderita harus melakukan uji ELISA lagi, sebelum melakukan Western Blot untuk mengonfirmasi status HIV positif. ELISA awal dapat bereaksi silang untuk memberi hasil positif palsu jika digunakan tanpa uji konfirmasi. Western Blot akan dibaca positif bila ada antibody dua atau lebih “pita” protein ditemukan dalam HIV. Adanya pita tunggal tidak dapat meyakinkan dan mungkin hasil dari pajanan HIV atau sebuah temuan kronis. Diantara penyebab hasil menetap yang tidak dapat disimpulkan ini adalah autoimun atau penyakit vascular kolagen, aloantibodi dari kehamilan atau transfuse, dan infeksi HIV subtype jarang atau HIV 2. Hasil positif palsu pada ELISA dan Western Blot kurang dari 0,001 persen dalam area prevalensi yang rendah.
Selain 2 uji standar tersebut, ada banyak uji lain yang digunakan untuk mengevaluasi kesehatan dan perkembangan penyakit. Beberapa diantaranya penting bagi bidan untuk mengenalinya dalam rangka meningkatkan status kesehatan wanita. Pengujian ini termasuk pengukuran CD4 limfosit, muatan virus plasma, perubahan dalam hitung sel darah lengkap dan panel kimia. Karena pada saat hamil diharapkan viral load ibu serendah-rendahnya.
(pada saat hamil diharapkan vairal load ibu serendah-rendahnya. Selain itu perlu untuk dilakukan USG untuk melihat pertumbuhan janin pada pasien HIV/AIDS, janin dapat IUGR atau bahkan IUFD)
2.      Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan.
1)      Dx aktual :
GPapah usia kehamilan… dengan HIV/AIDS stadium 1/2/3/4 Janin tunggal, hidup, presentasi, keadaan janin baik.
2)      Masalah : Pada ibu hamil dengan HIV masalahnya yaitu:
a.       Kecemasan ibu pada kondisi bayinya
b.      Penurunan berat badan
c.       Penyakit oportunistik
d.      Sariawan dan diare yang tak kunjung sembuh
3.      Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi masalah / diagnosa potensial lain berdasarkan masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasikan. Pada kehamilan dengan HIV/AIDS dapat muncul diagnose potensial yaitu abortus, IUGR dan penularan HIV dari ibu ke janin.
4.      Identifikasi Kebutuhan Segera
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera baik dalam melakukan konsultasi, kolaborasi, dengan dokter atau tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien, ibu hamil dengan HIV membutuhkan tindakan segera rujukan ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut sehingga proses kehamilan dan persalinannya baik sehingga mencegah penularan dari ibu ke janin apabila diketahui lebih dini.
KIE pola nutrisi dan PMTCT (Prevention Mother to Child Transmition) sangat penting bagi ibu hamil dengan HIV/AIDS yang merupakan pilar utama dalam penetalaksanaan HIV/AIDS.
5.      Perencanaan
Pada langkah ini jika ada informasi / data tidak lengkap bisa dilengkapi. Mencerminkan rasional yang valid dan ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya.
1)      Informasikan hasil pemeriksaan dan kondisi kehamilan pada ibu dan keluarga.
R/: ibu dan keluarga mengetahui tentang keadaan kehamilannya sehingga dapat menentukan tindakan yang tepat untuk menjaga kesehatan diri ibu dan janinnya.
2)      Berikan konseling dan edukasi (VCT) dan berikan dukungan psikologis kepada ibu
R/ Pengetahuan tentang HIV kepada ibu dan keluarga akan mengurangi tingkat kecemasan dan ketakutan ibu dan keluarga
3)      Diskusikan dengan ibu tentang PMTCT (Prevention Mother To Child Transmition) dan komplikasinya (Abortus, IUGR, HIV pada bayi) yang meliputi rencana persalinan yang aman di rumah sakit.
R/ Pengetahuan tentang PMTCT dapat mengurangi angka resiko HIV pada janin
4)      Kolaborasi untuk Uji saring antepartum untuk menegakkan diagnose medis selama window periode.
R/ Menegakkan diagnose HIV/AIDS
5)      Kolaborasi dengan dokter untuk menegakkan diagnose dan pemberian terapi.
R/: ibu hamil dengan HIV merupakan kondisi risiko tinggi yang memerlukan penanganan terpadu oleh dokter Sp.OG.
6)      Menyepakati kunjungan ulang
R/ pemantauan kesejahteraan janin dan kesehatan ibu dengan HIV/AIDS
6.      Penatalaksanaan
Melaksanakan rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah V
7.      Evaluasi
Dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan dalam bentuk SOAP.
S : ibu tidak cemas dan takut dengan kondisi penyakit HIV/AIDS yang dideritanya
O :
·         Kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik
·         Transmisi HIV dari ibu ke janin dapat dicegah
A : ibu hamil dengan HIV/AIDS
P :
·         P4K  perencanaan proses persalinan dengan operasi saesar untuk mencegah transmisi ibu ke janin
·         Kolaborasi dokter spesialis terkait pemberian terapi dan pemeriksaan lab
2.10          Upaya Preventif Penanggulangan HIV/AIDS oleh Pemerintah
Strategi Nasional ini merupakan kerangka acuan dan panduan untuk setiap upaya penanggulangan HIV/AIDS di lndonesia, baik oleh pemerintah, masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), keluarga, perorangan, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian, donor dan badan-badan internasional agar dapat bekerjasama dalam kemitraan yang efektlif dan saling melengkapi dalam lingkup keahlian dan kepedulian masing-masing.
Strategi Nasional ini disusun dengan sistematika :
Prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS, Lingkup program, Peran dan Tanggung jawab, Kerjasama lnternasional dan Pendanaan.
A.    Prinsip-prinsip Dasar Penanggulangan HIV/AIDS.
1.      Upaya penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dan pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan membimbing, serta menciptakan suasana yang menunjang.
2.      Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia.
3.      Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan meniperkukuh ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat.
4.      Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan perilaku yang tidak memberikan kesempatan penularan dan merubah perilaku yang beresiko tinggi.
5.      Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk melindung diri dan orang lain terhadap infeksi HIV/AIDS.
6.      Setiap kebijakan, program, pelayanan dan kegiatan harus tetap menghormati harkat dan martabat dari para pengidap HIV/penderita AIDS dan keluarganya.
7.      Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV/AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). Sebelum dan sesudahnya harus diberikan konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan.
8.      Diusahakan agar peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di semua tingkat.
9.      Setiap pemberi layanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada pengidap HIV/penderita AIDS.
B.     Lingkup Program
Program Nasional Penanggulangan HIV/AIDS mempunyai tiga kepedulian utama yang tak terpisahkan dan saling mengisi :
1.      Mengamankan upaya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dari dampak negatif HIV/AIDS.
2.      Menggerakkan kegiatan perorangan, keluarga dan masyarakat di seluruh Indonesia untuk pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS secara luas.
3.      Menjamin pengobatan, perawatan dan pelayanan pendukung (support services) yang secara teknis dapat dipertanggung jawabkan, manusiawi, berkeadilan dan tidak diskriminatif bagi mereka yang hidup dengan dan yang meninggal karena AIDS serta lingkungan terdekatnya (keluarga, teman sekerja dan sepergaulan).
C.     Peran dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat
Efektivitas upaya nasional untuk menanggulangi ancaman HIV/AIDS di Indonesia tergantung pada kerjasama semua pihak. Rencana yang rinci dan tanggung jawab operasional akan dikembangkan untuk masing-masing kegiatan namun secara garis besar pembagian tugas dan tanggung jawab adalah sebagai berikut :
1.      Pemerintah
a.       Tingkat Pusat
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sebagai Ketua Komisi dibantu oleh beberapa Menteri sebagai Wakil Ketua dan Anggota, mengkoordinasikan penyusunan rencana kebijakan nasional tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia dengan titik berat pada ketahanan keluarga.
b.      Tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kotamadya
Upaya penanggulangan HIV/AIDS di daerah dipimpin oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Bupati/Walikota KDH TK II, dengan peran aktif para pejabat Pemerintah dari sektor terkait, wakil-wakil dari lembaga dan Organisasi Non Pemerintah serta universitas/lembaga pendidikan tinggi di daerah.
c.       Tingkat Kecamatan
Upaya pananggulangan HIV/AIDS di Tingkat Kecamatan dipimpin oleh Camat,dengan kerjasama para pelaksana sektor terkait, wakil-wakil dari masyarakat lembaga dan Organisasi Non Pemerintah setempat.
d.      Tingkat Kelurahan dan desa.
Lurah/Kepala Desa memegang peran kunci dalam memimpin pelaksanaan pencegahan/penanggulangan HIV/AIDS dalam wilayahnya masing-masing.
D.    Kerjasama Internasional
Indonesia mendukung sepenuhnya upaya penanggulangan HIV/AIDS secara global. Sebagai negara anggota WHO, kebijaksanaan nasional AIDS Indonesia dikembangkan sesuai dan selaras dengan "WHO Global AIDS Strategy". Pengalaman negara-negara tetangga Indonesia, ASEAN dan Australia dalam penanggulangan HIV/AiDS sangat luas dan penting, sehingga bermanfaat untuk dipelajari oleh Indonesia. Karena lalu lintas dan mobilitas manusia yang tinggi, maka penting sekali dilakukan kerjasama dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara regional dan internasional.
Badan-badan lnternasional, Donor dan NGO (Non Governmental Organization) internasional berperan penting sebagai mitra dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Koordinasi kerjasama lnternasional dilakukan oleh Komisi Penanggulangan HIV/AIDS dengan kerjasama Bappenas.
E.     Pendanaan
Pendanaan untuk kegiatan yang dikembangkan dalam Strategi Nasional ini, bersumber pada APBN, APBD Tk I, APBD Tk II, sumbangan masyarakat, dunia usaha dan bantuan kerjasama luar negeri.




















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
HIV/AIDS adalah topic yang sangat sensitive dan lebih banyak sehingga banyak penelitian melibatka anak-anak yang rentan untuk terjangkit HIV. Setiap usaha dilakukan untuk memastikan bahwa keluarga akan merasa baik.
AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga member kesempatan berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan, kemunduran kemampuan intelektual, dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, protozoa, jamur serta terjadi degenerasi ganas.
Strategi Nasional ini merupakan aktualisasi dari tekad bangsa Indonesia untuk menghadapi ancaman bahaya HIV/AIDS yang makin besar, guna mengamankan hasil dan laju pembangunan nasional. Bangsa Indonesia sebagal negara dunia ikut bertanggung jawab dalam upaya global penanggulangan HIV/AIDS di dunia.
Tugas yang dihadapi tidaklah mudah, tetapi Indonesia mempunyai beragam pengalaman yang telah berhasil menggerakkan bangsa untuk kepentingan bersama. Dengan kepedulian setiap insan Bangsa Indonesia diyakini bahwa bangsa Indonesia akan dapat menanggulangi HIV/AIDS untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi masa mendatang.
3.2  Saran
1.      Masyarakat membutuhkan edukasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya yang benar agar stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dapat diluruskan.
2.      Melalui hak yang dimiliki oleh pemerintah untuk membuat kebijakan, agar sekiranya dapat menyentuh kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga dalam penerapan kebijakan yang di buat oleh pemerintah mudah dilaksanakan dan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
3.      Pemerintah bersama jajarannya selalu sigap dalam menangani masalah HIV/AIDS sehingga penularannya dapat di cegah sehingga tidak banyak jatuh korban yang berujung kepada kematian.
4.      Pemerintah bisa menjadi tauladan bagi masyarakat sehingga perilaku yang berisiko HIV/AIDS dapat dicegah. Selain itu agar kiranya pemerintah selalu memperhatikan alokasi dana dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penderita HIV/AIDS






















DAFTAR PUSTAKA
Adler MW, 1993. Peunjuk Penting AIDS edisi 3. Jakarta : EGC pp. 1-92
Coad J, Dunstall M, 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC.
Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD, 2005. Obstetri Williams edisi 21 vol I, Jakarta : EGC.
Daili, 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP. pp. 932-933
Depkes RI, 2008. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS secara Sukarela (Voluntary Counselling and Testing). Jakarta.
http://daerah.sindonews.com/read/986368/21/223-ibu-hamil-di-jabar-positif-hiv-1428409700
Kusniati, N dkk. Modul 4 : PMS & HIV/AIDS. Jakarta : PKBI, IPPF, UNFBA
Manuaba, Ida Ayu Chandranita, dkk. 2008. Patologi Obstetri.  Jakarta : EGC
Susanti NN. 2000. Psikologi Kehamilan. Jakarta: EGC.