BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa alami
yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan
ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester
pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan
kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis
wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
Sejak ditemukannya infeksi human immunodeficiency virus (HIV) pada tahun 1982, penelitian
semakin banyak dilakukan dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan dunia.
Terdapat sekitar lima jenis HIV dengan bentuk infeksi terakhir disebut AIDS (acquired immunodeficiency syndrome),
yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga member kesempatan
berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan, kemunduran kemampuan
intelektual, dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh
manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri,
protozoa, jamur serta terjadi degenerasi ganas. Penelitian telah dilakukan
sejak HIV pertama kali ditemukan, tetapi sampai saat ini obatnya belum
ditemukan sehingga bila terinfeksi virus HIV berarti sudah menuju kematian.
Obat yang tersedia sekedar untuk mempertahankan atau memperpanjang usia, bukan
untuk membunuh virus HIV.
Orang-orang yang terinfeksi
positif HIV yang mengetahui status
mereka mungkin dapat memberikan manfaat. Namun, seks tanpa perlindungan antara
orang yang yang berisiko membawa HIV sero-positif sebagai super infeksi,
penularan infeksi seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan dapat membuat
penurunan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini jelas bahwa banyak pasangan
yang harus didorong untuk melakukan tes HIV untuk memastikan status mereka dengan
asumsi bahwa mereka mungkin terinfeksi karena pernah memiliki hubungan seksual
denga seseorang yang telah diuji dan ditemukan seropositif HIV.
Komunikasi seksualitas antara
orangtua dan anak telah diidentifikasi sebagai factor pelindung untuk seksual remaja
dan kesehatan reproduksi, termasuk infeksi HIV. Meningkatkan kesehatan seksual
dan reproduksi remaja merupakan prioritas dunia. Intervensi yang bertujuan
untuk menunda perilaku seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual dan
meningkatkan penggunaan kondom. Dari penelitian yang dilakukan di negara berkembang
menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas memiliki potensi untuk memberikan
dampak positif pada pengetahuan, sikap, norma dan niat, meskipun mengubah
perilaku seksual sangat terbatas.
Evolusi infeksi HIV menjadi penyakit
kronis memiliki implikasi di semua pengaturan perawat klinis. Setiap perawat
harus memiliki perawatan klinis. Setiap perawat harus memiliki pengetahuan
tantang pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kronisitas dari penyakit &memberikan
perawatan yang berkualitas kepada orang dengan atau berisiko HIV
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa
defenisi HIV/AIDS ?
2.
Apa
penyebab HIV/AIDS pada ibu hamil ?
3.
Bagaimana
patofisiologi HIV/AIDS pada ibu hamil?
4.
Bagaimana
cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi ?
5.
Apa
faktor risiko HIV/AIDS pada ibu hamil?
6.
Sebutkan
pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada ibu hamil?
7.
Sebutkan
penatalaksanaan HIV/AIDS pada ibu hamil?
8.
Bagaimana
pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil?
9.
Bagaimana
Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS ?
10.
Bagaimana
Upaya Preventif penanggulangan HIV/AIDS oleh pemerintah ?
1.3 Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian HIV/AIDS pada ibu hamil
2.
Untuk
mengetahui penyebab/etiologi HIV/AIDS pada ibu hamil
3.
Untuk
mengetahui patofisiologi HIV/AIDS pada ibu hamil
4.
Untuk
mengetahui cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi.
5.
Untuk
mengetahui factor risiko HIV/AIDS pada ibu hamil
6.
Untuk
mengetahui pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada ibu hamil
7.
Untuk
mengetahui penatalaksaan HIV/AIDS pada ibu hamil
8.
Untuk
mengetahui pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil
9.
Untuk
mengetahui Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS
10.
Untuk
mengetahui Upaya preventif penanggulangan HIV/AIDS oleh pemerintah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Defenisi
HIV/AIDS
Human
immunodeficiency virus (HIV) adalah
retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau
merusak fungsinya. Selama infeksi berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih
rentan terhadap infeksi. Tahap yang lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodeficiency syndrome
(AIDS). Hal ini dapat memakan waktu 10-15 tahun untuk orang yang terinfeksi HIV
hingga berkembang menjadi AIDS, obat antiretroviral dapat memperlambat proses
lebih jauh. HIV ditularkan melalui hubungan seksual (anal atau vaginal),
transfusi darah yang terkontaminasi, berbagi jarum yang terkontaminasi, dan
antara ibu dan bayinya selama kehamilan, melahirkan dan menyusui.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit
terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
(Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare). AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah suatu penyakit
retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus
berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai
kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan
obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya,
hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut. (Kamus
kedokteran Dorlan, 2002).
AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai
dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga
keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa
kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. (Menurut Center
for Disease Control and Prevention).
Wanita hamil lebih berisiko tertular
Human Immunodeficien Virus (HIV) dibandingkan
dengan wanita yang tidak hamil. Jika HIV positif, wanita hamil lebih sering
dapat menularkan HIV kepada mereka yang tidak terinfeksi daripada wanita yang
tidak hamil.
Menurut laporan CDR (Center for Disease Control) Amerika
mengemukakan bahwa jumlah wanita penderita AIDS di dunia terus bertambah,
khususnya pada usia reproduksi. Sekitar 80% penderita AIDS anak-anak mengalami
infeksi prenatal dari ibunya. Seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah
0,0-1,7%, saat persalinan 0,4-0,3% dan 9,4-29,6% pada ibu hamil yang biasa
menggunakan narkotika intravena.
Wanita usia produktif merupakan usia
yang berisiko tertular infeksi HIV. Dilihat dari profil umur, ada kecendrungan
bahwa infeksi HIV pada wanita mengarah ke umur yang lebih muda, dalam arti bahwa usia muda lebih banyak
terdapat wanita yang terinfeksi, sedangkan pada usia di atas 45 tahun infeksi
pada wanita lebih sedikit. Dilain pihak menurut para ahli kebidanan bahwa usia
reproduktif merupakan usia wanita yang lebih tepat untuk hamil dan melahirkan.
Hasil survey di Uganda pada tahun 2003 mengemukakan bahwa prevalensi HIV di
klinik bersalin adalah 6,2%, dan satu dari sepuluh orang Uganda usia antara
30-39 tahun positif HIV-AIDS perlu diwaspadai karena cenderung terjadi pada
usia reproduksi.
2.2 Etiologi
HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Penyebab AIDS adalah sejenis virus
yang tergolong Retrovirus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh
Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV),
sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III.
Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah
menjadi HIV.
Human
Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang
asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai
ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia
mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T,
virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama
dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap
HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan
selama hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2
bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian
inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid).
Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri
atas lipid dan glikoprotein. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan
panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh
lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan
berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan
sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva,
semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel
monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.
Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di
antaranya ;
1.
Penularan
melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual).
2.
Hubungan
seksual yang berganti-ganti pasangan.
3.
Perempuan
yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4.
Individu
yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan
orang yang terinfeksi HIV.
5.
Orang
yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti
setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum
suntik yang terkontaminasi.
2.3 Patofisiologi
HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Kehamilan merupakan usia yang rawan
tertular HIV-AIDS. Penularan HIV-AIDS pada wanita hamil terjadi melalui
hubungan seksual dengan suaminya yang sudah terinfeksi HIV. Pada negara
berkembang istri tidak berani mengatur kehidupan seksual suaminya di luar
rumah. Kondisi ini dipengaruhi oleh sosial dan ekonomi wanita yang masih
rendah, dan isteri sangat percaya bahwa suaminya setia, dan lagi pula masalah
seksual masih dianggap tabu untuk dibicarakan.
Virus HIV tergolong retrovirus, yang merupakan standar RNA,
tunggal terbungkus. Bila memasuki tubuh, virus akan melekat pada reseptor CD4
sel terinfeksi. Kemudian virus mempergunakan enzim reverse transcriptase, yang mampu membentuk DNA ganda. Standar DNA
ganda ini mampu masuk sirkulasi sel menuju intinya dan bersatu dengan DNA inti
sel yang asli. DNA virus dapat membentuk RNA yang terinfeksi dan RNA yang akan
membawa tanda (berita) sehingga dapat membentuk protein.
Pertumbuhan virus HIV terbatas pada limfosit, monosit,
makrofag, dan sumber pembentuk sum-sum tulang tertentu. Secara intraseluler,
virus dapat memecah diri sehingga setelah selnya hancur dapat dikeluarkan virus
HIV baru yang akan menyerang sel lainnya. Bentuk virus HIV selalu berubah-ubah,
sesuai dengan sel yang diserangnya sehingga sulit untuk membuat antibody atau
antigen agar mampu membuat vaksinnya. Oleh karena itu, obatnya masih sulit
untuk dibuat sampai saat ini.
2.4 Penularan HIV dari Ibu kepada Bayinya
Cara penularan virus HIV-AIDS pada
wanita hamil dapat melalui hubungan seksual. Salah seorang peneliti
mengemukakan bahwa penularan dari suami yang terinfeksi HIV ke isterinya
sejumlah 22% dan istri yang terinfeksi HIV ke suaminya sejumlah 8%. Namun
penelitian lain mendapatkan serokonversi (dari pemeriksaan laboratorium negatif
menjadi positif) dalam 1-3 tahun dimana didapatkan 42% dari suami dan 38% dari
isteri ke suami dianggap sama.
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang
menderita HIV/AIDS sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko
penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997).
Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah
terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup.
Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode :
1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat
kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus
oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat
menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari
infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a) Mengalami infeksi viral, bakterial,
dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
b) Terinfeksi HIV selama kehamilan,
membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
c) Mempunyai daya tahan tubuh yang
menurun.
d) Mengalami malnutrisi selama
kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan
dari ibu ke anak.
2. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih
besar jika dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal
atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau
sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin
besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat
dipersingkat dengan section caesaria. Faktor yang mempengaruhi tingginya
risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah: Lama
robeknya membran.
a) Chorioamnionitis akut (disebabkan
tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya).
b) Teknik invasif saat melahirkan yang
meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya, episiotomi.
c) Anak pertama dalam kelahiran kembar
3. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui
ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang
menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan
ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
a) Pola pemberian ASI, bayi yang
mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan
pemberian campuran.
b) Patologi payudara: mastitis, robekan
puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara lainnya.
c) Lamanya pemberian ASI, makin lama
makin besar kemungkinan infeksi.
d) Status gizi ibu yang buruk.
2.5 Faktor
Resiko HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Semula diperkirakan factor risiko infeksi HIV hanya
homoseksual, dan pengguna narkoba yang menggunakan suntikan terinfeksi, tetapi
jumlahnya semakin besar. Infeksi HIV terutama menyerang sel T limfosit dan
system saraf pusat. Cara masuknya ke dalam sel mulai dengan ikatan reseptornya
pada sel lomfosit dan diikuti rusaknya inti kemudian memecahkan dirinya menjadi
beberapa virus HIV. Secara berabtai, virus HIV kembali akan menyerang sel
lomfosit CD4 sehingga akhirnya terjadi penurunan daya tahan tubuh secara
menyeluruh dan disebut acquired
immunodefeciency syndrome (AIDS).
Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV
sebagai berikut :
1.
Janin
dengan ibu yang terjangkit HIV
2.
Perempuan
yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
3.
Pekerja
seks komersial
4.
Pasangan
yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin
2.6 Pemeriksaan
Penunjang HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Tes-tes saat
ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan tes
negatif pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba mengembangkan prosedur
siap pakai yang tidak mahal untuk membedakan respons antibody bayi dan ibu.
1. Pemeriksaan histologis, sitologis
urin , hitung darah lengkap, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi.
2. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan
otak, EMG.
3. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan
perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi
lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan
gallium; biopsy; branskokopi.
4. Tes Antibodi
5. Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), untuk menunjukkan bahwa
seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
6. Western blot asay/ Indirect
Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan memastikan
seropositifitas HIV.
7. Indirect immunoflouresence, sebagai
pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
8. Radio immuno precipitation assay,
mendeteksi protein pada antibodi.
2.7 Penatalaksanaan
HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Pengalaman
program yang signifikan dan bukti riset tentang HIV dan pemberian makanan untuk
bayi telah dikumpulkan sejak rekomendasi WHO untuk pemberian makanan bayi dalam konteks HIV terakhir kali
direvisi pada tahun 2006. Secara khusus, telah dilaporkan bahwa antiretroviral
(ARV) intervensi baik ibu yang terinfeksi HIV atau janin yang terpapar
HIVsecara signifikan dapat mengurangi
risiko penularan HIV pasca kelahiran melalui menyusui. Bukti ini memiliki
implikasi besar untuk bagaimana perempuan yang hidup dengan HIV mungkin dapat
memberi makan bayi mereka, dan bagaimana
para pekerja kesehatan harus nasihati ibu-ibu ini. Bersama-sama, intervensi ASI
dan ARV memiliki potensi secara signifikan untuk meningkatkan peluang bayi
bertahan hidup sambil tetap tidak terinfeksi HIV.
Dimana
otoritas nasional mempromosikan
pemberian ASI dan ARV, ibu yang diketahui terinfeksi HIV sekarang
direkomendasikan untuk menyusui bayi mereka setidaknya sampai usia 12 bulan. Rekomendasi bahwa
makanan pengganti tidak boleh digunakan kecuali jika dapat diterima, layak,
terjangkau, berkelanjutan dan aman (AFASS).
Pemberian
antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada
dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang
bisa dipilih untuk negara berkembang adalah Nevirapine,
pada saat ibu saat persalinan diberikan 200mg dosis tunggal, sedangka bayi
bisa diberikan 2mg/kgBB/72 jam pertama setelah lahir dosis tunggal. Obat lain
yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu
2x300mg/hari dan 300mg setiap jam selama persalinan berlangsung.
Belum ada penyembuhan untuk AIDS
jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) maka terapinya
yaitu :
1. Pengendalian infeksi oportunistik.
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti,
nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di
lingkungan perawatan yang kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin). Obat ini
menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat enzim pembalik
transcriptase.
3. Terapi antiviral baru. Untuk
meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus atau
memutuskan rantai reproduksi virus pada proses nya. Obat- obat ini adalah :
didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
4. Vaksin dan rekonstruksi virus,
vaksin yang digunakan adalah interveron.
5. Menghindari infeksi lain, karena
infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi HIV.
6. Rehabilitas. Bertujuan untuk memberi
dukungan mental-psikologis, membantu mengubah perilaku risiko tinggi menjadi
perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan
mempertahankan kondisi tubuh sehat.
7. Pendidikan. Untuk menghindari
alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari stres, gizi yang
kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imun. Edukasi ini juga bertujuan
untuk mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak
mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.
2.8 Pencegahan
HIV/AIDS Pada Ibu Hamil
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke
bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai saat masa
kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut yaitu:
Penggunaan
obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru
dilahirkan. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih
rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang
efektif untuk menularkan HIV. Satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit
melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2–3 hari setelah lahir.
Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi
hanya 2 persen.
Penanganan
obstetrik selama persalinan. Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan
metode Sectio caesaria karena metode ini terbukti mengurangi resiko penularan
HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini disertai dengan
penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%.
Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas
ibu yang rendah yang bisa memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu,
persalinan per vagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi
gizi, keuangan, dan faktor lain.
Penatalaksanaan
selama menyusui. Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan
untuk bayi dengan ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian,
didapatkan bahwa ± 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.
2.9 Asuhan
Kebidanan pada ibu dengan HIV/AIDS
Pemeriksa :
Jam :
Tempat :
Tanggal :
1. Pengkajian data
Data Subjektif (DS)
(1) Identitas ibu hamil dan suami
Nama : Mengantisipasi keslahan pemberian asuhan
Umur : HIV pada ibu hamil tidak ada batasan usia
Pendidikan : Tingkat pendidikan ibu
Pekerjaan : Tingkat
perekonomian dan pekerjaan merupakan factor resiko terinfeksi HIV. Pekerjaan
merupakan resiko tinggi HIV/AIDS adalah pekerja seks, pelaut, dsb.
Alamat :
(2) Keluhan Utama
Keluhan yang paling sering terjadi
pada pasien hamil dengan HIV/AIDS adalah selain keluhan sehubungan dengan
kehamilannya, ibu juga mengeluh berbagai masalah sesuai dengan stadium).
a. Stadium Klinis 1
·
Asimtomatis
·
Limpadenopati
persistent generalisata
·
Penampilan
atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.
b. Stadium Klinis 2
·
Penurunan
berat badan, 10% dari berat badan sebelumnya.
·
Manifestasi
mukokutaneus minor (dermatitis seborhhoic, prurigo, infeksi jamur pada kuku,
ulserasi mukosa oral berulang, cheilitis angularis)
·
Herpes
Zoster, dalam 5 tahun terakhir.
·
Infeksi
berulang pada saluran pernapasan atas (misalnya sinusitis bakterial)
·
Dengan
atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas normal.
c. Stadium Klinis 3
·
Penurunan
berat badan >10%
·
Diare
kronis dengan penyebab tidak jelas >1 bln
·
Demam
dengan sebab yang tidak jelas (intermittent atau tetap), >1 bulan
·
Kandidiasis
oris
·
Oral
hairy leukoplakia
·
TB
pulmoner, dalam 1 tahun terakhir.
·
Infeksi
bakterial berat (misal : pneumonia, piomiositis)
·
Dengan
atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di tempat tidur, <50%
perhari dalam bulan terakhir.
d. Stadium Klinis 4
·
HIV
wasting syndrome, sesuai yang ditetapkan CDC
·
PCP
(pneumocytis carinii pneumonia)
·
Ensefalitis
toksoplasmosis
·
Cryptococcosis
ekstrapulmoner
·
Infeksi
virus sitomegalo
·
Infeksi
herper simpleks >1 bulan
·
Berbagai
infeksi jamur berat.
·
Kandidiasis
esofagus, trachea atau bronkhus
·
Mikobakteriosis
atypical
·
Salmonelosis
non tifoid disertai setikemia
·
TB,
ekstrapulmoner
·
Limfoma
maligna
·
Sarkoma
kaposi’s
·
Ensefalopati
HIV
·
Dengan
atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada di tempat
tidur >50% per hari dalam bulan terakhir (Fazidah, 2004).
(3) Riwayat Obstetri:
a. Riwayat menstruasi
Fluor
albus : banyak, gatal , berbau, warna hijau. Pada ibu dengan HIV mudah terkena
infeksi jamur yang bila mengenai organ genital bisa menyebabkan keputihan.
b. Riwayat Obstetri lalu
Kehamilan
yang lalu terinfeksi HIV, ibu dapat bersalin dengan SC.
c. Riwayat Kehamilan Sekarang :
Keluhan
pada trimester I ,II, atau III pada ibu hamil dengan HIV seperti keluhan ibu
hamil normal terkadang dijumpai keluhan berdasarkan stadium HIV/AIDS:
Trimester I : Chloasma gravidarum, mual dan muntah (akan hilang pada
kehamilan 12-14 minggu) sering kencing, pusing, ngidam, obstipasi.
Trimester II : Body image dan nafsu makan bertambah.
Trimester III : Sering kencing, obstipasi, sesak nafas (bila tidur telentang)
sakit punggung, oedema, varices.
d. Riwayat perkawinan
Hamil
dengan HIV biasanya ibu atau suami menikah lebih dari satu kali atau mempunyai
banyak pasangan.
e. Riwayat kesehatan ibu
Pada ibu dengan HIV biasanya penyakit yang diderita beragam,
antara lain : demam, faringitis, limfadenopati, artralgia, mialgia, letargi,
malaise, nyeri kepala, mual, muntah, diare, anoreksia, penurunan berat badan.
Dapat juga menimbulkan kelainan saraf, seperti meningitis, ensefaliits,
neuropati perifer dan mielopati. Gejala pada dermatologi yaitu ruam
makropapulereritematosa dan ulkus makokutan
Pada beberapa pasien terdapat sarkoma kaposi’s, herpes
simpleks, sinusitis bakterial, herpes Zooster dan peneumonia yang berlangsung
tidak terlalu lama. Fase ini berlangsung sekitar 8-10 tahun (dapat 3-13 tahun)
setelah terinfeksi HIV. Pada tahun kedelapan setelah terinfeksi HIV akan muncul
gejala klinis yaitu demam, banyak berkeringat pada malam hari, kehilangan berat
badan kurang dari 10%, diare, lesi pada mukosa dan kulit berulang, penyakit
infeksi kulit berulang. Gejala ini merupakan tanda awal munculnya infeksi
oportunistik.
Selain itu terdapat juga pneumonia carinii, tuberkulosis,
sepsis, toksoplamosis ensefalitis, diare akibat kriptosporidiasis, infeksi
virus sitomegalo, infeksi virus herpes, kandisiasis esofagus, kandisiasis
trakhea, kandisiasis bronkhus atau paru serta infeksi jamur jenis lain seperti
histoplamosis, koksidiodomikosis. Kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker,
yaitu kanker kelenjar getah bening dan kanker sarkoma kaposi’s (Nasronudin,
2007).
f. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit
HIV dapat diturunkan oleh orangtua ataupun ditularkan oleh suami penderita.
g. Pola fungsional kesehatan
a) Pola Nutrisi :
pada pasien HIV pola makan harus
dijaga untuk menghindari terjadinya infeksi oportunistik.
Wanita
dewasa memerlukan 2.500 Kalori per hari, jumlah tambahan kalori yang dibutuhkan
pada ibu hamil adalah 300 kalori per hari, dengan komposisi menu seimbang
(cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air) (Nakita,
2014). Pada pasien HIV yang mengalami ulserasi mukosa oral terjadi gangguan
pemenuhan nutrisi karena ketidaknyamanan/sakit saat makan.
b) Pola Eliminasi :
BAK
: dalam batas normal (1cc kg/jam)
BAB
teratur tiap hari 1x
Pada
stadium HIV lanjut ( stadium III dan IV) Ibu dapat mengalami diare akut atau
c) Pola Istirahat :
Pada
stadium lanjut HIV ibu membutuhkan istirahat, selalu berada di tempat tidur
> 50% per hari dalam bulan terakhir.
d) Pola Aktivitas :
Stadium
1 : penampilan atau aktivitas fisik skala 1: asimtomatis, aktivitas normal.
Stadium
2 : dengan atau penampilan ativitas fisik skala 2 : simtomatis, aktivitas
normal.
Stadium
3 : dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 3: lemah, berada di tempat
tidur, <50% perhari dalam bulan terakhir.
Stadium
4 : dengan atau penampilan/aktivitas fisik skala 4: sangat lemah, selalu berada
di tempat tidur >50% per hari dalam bulan terakhir (Fazidah, 2004).
e) Aktivitas Seksual
Seberapa
sering aktivitas sex yang dilakukan ibu dan suami sebelum dan selama kehamilan.
Mungkin ditemukan adanya penurunan aktivitas seksual utamanya pada mereka yang
sudah berada pada stadium lanjut. disarankan untuk menggunakan kondom bila
suami HIV negatif dikarenakan kondom dapat mencegah penularan HIV.
f) Pola Kebiasaan
Merokok
Minum
Alkohol
Mengkonsumsi
Narkoba : Pemakaian narkoba dengan suntik atau obat-obatan terlarang lainya yang
dapat meningkatkan resiko terkena HIV AIDS.
Minum
Jamu-jamuan
Memelihara
binatang peliharaan : (rantai penularan toxoplasmosis yang dapat memperburuk
HIV/AIDS dalam perkembangan janin)
h. Riwayat PsikoSosial Budaya
Perkawinan
ibu dengan HIV seringkali ditemui dengan ibu atau suami menikah lebih dari
sekali. Perencanaan kehamilan akan berpengaruh pada penerimaan ibu dan keluarga
terhadap kehamilan ini dan bayinya nantinya, ibu merasa gelisah dan cemas
apabila keluhan yang dirasakan oleh ibu akan mengganggu kehamilannya.
Data Obyektif (DO)
(1) Pemeriksaan Umum
·
TD
: Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan tekanan darah dengan ibu hamil
normal. Normal antara 100/60-140/90 mmHg
·
Suhu
: Suhu pada ibu hamil dengan HIV pada fase akut dan fase laten akan mengalami
demam. Normal antara 360C – 370C (Nasronudin, 2007).
·
Nadi
: Ibu hamil dengan HIV tidak ada perbedaan jumlah nadi dengan ibu hamil normal.
Nadi normal antara 80-110 x/menit
·
RR
: Pada ibu dengan HIV tidak ada peningkatan jumlah pernapasan. Normal 16-20
x/menit.
·
Berat
badan sebelum hamil: Penimbangan berat badan harus terus dipantau. Pada
penderita HIV pada fase infeksi laten mengalami penurunan berat badan 10%
(Nasronudin, 2007).
·
Berat
badan sekarang: Mulai stadium II ibu mengalami penurunan BB akan tetapi <10
Kg, sedangkan pada stadium III dan IV penurunan berat badan > 10 Kg.
(2) Pemeriksaan Fisik
Muka
|
||
Mulut
|
:
|
Mukosa
bibir kering, caries gigi. Pada pasien HIV stadium klinis 2 terjadi ulserasi
mukosa berulang. Pada stadium klinis 3 terdapat kandidiasis oris (pada rongga
mulut terdapat pseudomembran yang berwarna putih krem sampai keabu-abuan.
Periksa adanya leukoplakia (plak putih di sekitar rongga mulut) (Nasronudin,
2007).
|
Dada
|
:
|
Ada tarikan dinding dada. Ada
ronchi dan wheezing sebagai indikasi kelainan organ pernafasan ( apabila
sudah terjadi TB pulmonar dan PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia)
manifestasi dari HIV/AIDS.
Pada pasien HIV mulai stadium 1 terdapat limpadenopati (pembengkakan kelenjar limfe) (Nasronudin, 2007). |
Abdomen
|
:
|
Ada luka bekas SC apabila ibu
persalinan yang lalu mengidap HIV mencegah penularan ibu ke bayi.
Pembesaran uterus terkadang tidak sesuai dengan umur kehamilan. Hal tersebut dikarenakan adanya infeksi HIV menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin. |
Ekstrimitas
|
:
|
Atas : tidak ada oedema
Bawah : tidak ada varises Pada stadium II terlihat luka infeksi/ ulkus pada kuku. |
Kulit
|
:
|
Kadang
ditemukan tanda-tanda dermatitis, herpes zoster, prurigo, dan kelainan kulit
lainnya akibat infeksi jamur.
|
Genetalia
|
:
|
Vulva dan vagina
Keluaran : Pada wanita hamil sering mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Keadaan ini dalam batas normal (tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal). Pada ibu hamil dengan HIV memungkinkan adanya infeksi candida yang menyebabkan flour albus (Nasronudin, 2007). |
3) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan lab
Pemeriksaan HIV
Saat ini
ada 2 standar untuk melakukan uji HIV yaitu dengan Enzyme-Linked Immunosorbent
Assay (ELISA) dan Western Blot. Apabila setelah melakukan uji ELISA hasilnya
positif maka penderita harus melakukan uji ELISA lagi, sebelum melakukan
Western Blot untuk mengonfirmasi status HIV positif. ELISA awal dapat bereaksi
silang untuk memberi hasil positif palsu jika digunakan tanpa uji konfirmasi.
Western Blot akan dibaca positif bila ada antibody dua atau lebih “pita”
protein ditemukan dalam HIV. Adanya pita tunggal tidak dapat meyakinkan dan
mungkin hasil dari pajanan HIV atau sebuah temuan kronis. Diantara penyebab
hasil menetap yang tidak dapat disimpulkan ini adalah autoimun atau penyakit vascular
kolagen, aloantibodi dari kehamilan atau transfuse, dan infeksi HIV subtype
jarang atau HIV 2. Hasil positif palsu pada ELISA dan Western Blot kurang dari
0,001 persen dalam area prevalensi yang rendah.
Selain 2
uji standar tersebut, ada banyak uji lain yang digunakan untuk mengevaluasi
kesehatan dan perkembangan penyakit. Beberapa diantaranya penting bagi bidan
untuk mengenalinya dalam rangka meningkatkan status kesehatan wanita. Pengujian
ini termasuk pengukuran CD4 limfosit, muatan virus plasma, perubahan dalam
hitung sel darah lengkap dan panel kimia. Karena pada saat hamil diharapkan
viral load ibu serendah-rendahnya.
(pada saat
hamil diharapkan vairal load ibu serendah-rendahnya. Selain itu perlu untuk
dilakukan USG untuk melihat pertumbuhan janin pada pasien HIV/AIDS, janin dapat
IUGR atau bahkan IUFD)
2.
Interpretasi
Data Dasar
Pada
langkah ini dilakukan identifikasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan.
1)
Dx
aktual :
GPapah usia kehamilan…
dengan HIV/AIDS stadium 1/2/3/4 Janin tunggal, hidup, presentasi, keadaan janin
baik.
2)
Masalah
: Pada ibu hamil dengan HIV masalahnya yaitu:
a. Kecemasan ibu pada kondisi bayinya
b. Penurunan berat badan
c. Penyakit oportunistik
d. Sariawan dan diare yang tak kunjung
sembuh
3.
Identifikasi
Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi
masalah / diagnosa potensial lain berdasarkan masalah dan diagnosa yang sudah
diidentifikasikan. Pada kehamilan dengan HIV/AIDS dapat muncul diagnose
potensial yaitu abortus, IUGR dan penularan HIV dari ibu ke janin.
4.
Identifikasi
Kebutuhan Segera
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera baik dalam
melakukan konsultasi, kolaborasi, dengan dokter atau tenaga kesehatan lain
berdasarkan kondisi klien, ibu hamil dengan HIV membutuhkan tindakan segera
rujukan ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut sehingga proses
kehamilan dan persalinannya baik sehingga mencegah penularan dari ibu ke janin
apabila diketahui lebih dini.
KIE pola nutrisi dan PMTCT (Prevention Mother to Child
Transmition) sangat penting bagi ibu hamil dengan HIV/AIDS yang merupakan
pilar utama dalam penetalaksanaan HIV/AIDS.
5.
Perencanaan
Pada langkah ini jika ada informasi / data tidak lengkap
bisa dilengkapi. Mencerminkan rasional yang valid dan ditentukan oleh hasil
kajian pada langkah sebelumnya.
1)
Informasikan
hasil pemeriksaan dan kondisi kehamilan pada ibu dan keluarga.
R/: ibu dan keluarga mengetahui
tentang keadaan kehamilannya sehingga dapat menentukan tindakan yang tepat
untuk menjaga kesehatan diri ibu dan janinnya.
2)
Berikan
konseling dan edukasi (VCT) dan berikan dukungan psikologis kepada ibu
R/ Pengetahuan tentang HIV kepada
ibu dan keluarga akan mengurangi tingkat kecemasan dan ketakutan ibu dan
keluarga
3)
Diskusikan
dengan ibu tentang PMTCT (Prevention Mother To Child Transmition) dan komplikasinya
(Abortus, IUGR, HIV pada bayi) yang meliputi rencana persalinan yang aman di
rumah sakit.
R/ Pengetahuan tentang PMTCT dapat
mengurangi angka resiko HIV pada janin
4)
Kolaborasi
untuk Uji saring antepartum untuk menegakkan diagnose medis selama window
periode.
R/ Menegakkan diagnose HIV/AIDS
5)
Kolaborasi
dengan dokter untuk menegakkan diagnose dan pemberian terapi.
R/: ibu hamil dengan HIV merupakan
kondisi risiko tinggi yang memerlukan penanganan terpadu oleh dokter Sp.OG.
6)
Menyepakati
kunjungan ulang
R/ pemantauan kesejahteraan janin
dan kesehatan ibu dengan HIV/AIDS
6.
Penatalaksanaan
Melaksanakan
rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah V
7.
Evaluasi
Dilakukan
evaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan dalam bentuk SOAP.
S : ibu tidak cemas dan takut dengan
kondisi penyakit HIV/AIDS yang dideritanya
O :
·
Kondisi
ibu dan janin dalam keadaan baik
·
Transmisi
HIV dari ibu ke janin dapat dicegah
A : ibu hamil dengan HIV/AIDS
P :
·
P4K
perencanaan proses persalinan dengan
operasi saesar untuk mencegah transmisi ibu ke janin
·
Kolaborasi
dokter spesialis terkait pemberian terapi dan pemeriksaan lab
2.10
Upaya Preventif Penanggulangan
HIV/AIDS oleh Pemerintah
Strategi
Nasional ini merupakan kerangka acuan dan panduan untuk setiap upaya
penanggulangan HIV/AIDS di lndonesia, baik oleh pemerintah, masyarakat,
lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), keluarga, perorangan, perguruan
tinggi dan lembaga-lembaga penelitian, donor dan badan-badan internasional agar
dapat bekerjasama dalam kemitraan yang efektlif dan saling melengkapi dalam
lingkup keahlian dan kepedulian masing-masing.
Strategi
Nasional ini disusun dengan sistematika :
Prinsip-prinsip dasar penanggulangan
HIV/AIDS, Lingkup program, Peran dan Tanggung jawab, Kerjasama lnternasional
dan Pendanaan.
1. Upaya penanggulangan HIV/AIDS
dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah. Masyarakat adalah pelaku utama dan
pemerintah berkewajiban untuk mengarahkan membimbing, serta menciptakan suasana
yang menunjang.
2. Setiap upaya penanggulangan harus
mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di Indonesia.
3. Setiap kegiatan diarahkan untuk
mempertahankan dan meniperkukuh ketahanan dan kesejahteraan keluarga, serta
sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat.
4. Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada
upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan perilaku yang tidak
memberikan kesempatan penularan dan merubah perilaku yang beresiko tinggi.
5. Setiap orang berhak untuk mendapat
informasi yang benar untuk melindung diri dan orang lain terhadap infeksi
HIV/AIDS.
6. Setiap kebijakan, program, pelayanan
dan kegiatan harus tetap menghormati harkat dan martabat dari para pengidap
HIV/penderita AIDS dan keluarganya.
7. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa
HIV/AIDS harus didahului dengan penjelasan yang benar dan mendapat persetujuan
yang bersangkutan (informed consent). Sebelum dan sesudahnya harus diberikan
konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan.
8. Diusahakan agar peraturan
perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional
Penanggulangan HIV/AIDS di semua tingkat.
9. Setiap pemberi layanan berkewajiban
memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada pengidap HIV/penderita AIDS.
Program
Nasional Penanggulangan HIV/AIDS mempunyai tiga kepedulian utama yang tak
terpisahkan dan saling mengisi :
1. Mengamankan upaya peningkatan Sumber
Daya Manusia (SDM) dari dampak negatif HIV/AIDS.
2. Menggerakkan kegiatan perorangan,
keluarga dan masyarakat di seluruh Indonesia untuk pencegahan penyebaran virus
HIV/AIDS secara luas.
3. Menjamin pengobatan, perawatan dan
pelayanan pendukung (support services) yang secara teknis dapat dipertanggung
jawabkan, manusiawi, berkeadilan dan tidak diskriminatif bagi mereka yang hidup
dengan dan yang meninggal karena AIDS serta lingkungan terdekatnya (keluarga,
teman sekerja dan sepergaulan).
C. Peran dan tanggung jawab pemerintah
dan masyarakat
Efektivitas upaya nasional untuk menanggulangi ancaman
HIV/AIDS di Indonesia tergantung pada kerjasama semua pihak. Rencana yang rinci
dan tanggung jawab operasional akan dikembangkan untuk masing-masing kegiatan
namun secara garis besar pembagian tugas dan tanggung jawab adalah sebagai
berikut :
a. Tingkat Pusat
Menteri
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sebagai Ketua Komisi dibantu oleh
beberapa Menteri sebagai Wakil Ketua dan Anggota, mengkoordinasikan penyusunan
rencana kebijakan nasional tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di
Indonesia dengan titik berat pada ketahanan keluarga.
b. Tingkat Propinsi dan
Kabupaten/Kotamadya
Upaya
penanggulangan HIV/AIDS di daerah dipimpin oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat
I, Bupati/Walikota KDH TK II, dengan peran aktif para pejabat Pemerintah dari
sektor terkait, wakil-wakil dari lembaga dan Organisasi Non Pemerintah serta
universitas/lembaga pendidikan tinggi di daerah.
c. Tingkat Kecamatan
Upaya
pananggulangan HIV/AIDS di Tingkat Kecamatan dipimpin oleh Camat,dengan
kerjasama para pelaksana sektor terkait, wakil-wakil dari masyarakat lembaga
dan Organisasi Non Pemerintah setempat.
d. Tingkat Kelurahan dan desa.
Lurah/Kepala
Desa memegang peran kunci dalam memimpin pelaksanaan pencegahan/penanggulangan
HIV/AIDS dalam wilayahnya masing-masing.
D. Kerjasama Internasional
Indonesia mendukung sepenuhnya upaya penanggulangan HIV/AIDS
secara global. Sebagai negara anggota WHO, kebijaksanaan nasional AIDS
Indonesia dikembangkan sesuai dan selaras dengan "WHO Global AIDS
Strategy". Pengalaman negara-negara tetangga Indonesia, ASEAN dan
Australia dalam penanggulangan HIV/AiDS sangat luas dan penting, sehingga
bermanfaat untuk dipelajari oleh Indonesia. Karena lalu lintas dan mobilitas
manusia yang tinggi, maka penting sekali dilakukan kerjasama dalam upaya
penanggulangan HIV/AIDS secara regional dan internasional.
Badan-badan lnternasional, Donor dan NGO (Non Governmental
Organization) internasional berperan penting sebagai mitra dalam upaya
penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Koordinasi kerjasama lnternasional
dilakukan oleh Komisi Penanggulangan HIV/AIDS dengan kerjasama Bappenas.
E. Pendanaan
Pendanaan
untuk kegiatan yang dikembangkan dalam Strategi Nasional ini, bersumber pada
APBN, APBD Tk I, APBD Tk II, sumbangan masyarakat, dunia usaha dan bantuan
kerjasama luar negeri.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kehamilan merupakan peristiwa alami
yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan
ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester
pertama pada umumnya mengalami mual, muntah, nafsu makan berkurang dan
kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis
wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
HIV/AIDS adalah topic yang sangat
sensitive dan lebih banyak sehingga banyak penelitian melibatka anak-anak yang
rentan untuk terjangkit HIV. Setiap usaha dilakukan untuk memastikan bahwa
keluarga akan merasa baik.
AIDS (acquired
immunodeficiency syndrome), yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh
sehingga member kesempatan berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan,
kemunduran kemampuan intelektual, dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua
kekebalan tubuh manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan
bakteri, protozoa, jamur serta terjadi degenerasi ganas.
Strategi Nasional ini merupakan aktualisasi dari tekad
bangsa Indonesia untuk menghadapi ancaman bahaya HIV/AIDS yang makin besar,
guna mengamankan hasil dan laju pembangunan nasional. Bangsa Indonesia sebagal
negara dunia ikut bertanggung jawab dalam upaya global penanggulangan HIV/AIDS
di dunia.
Tugas yang dihadapi tidaklah mudah, tetapi Indonesia
mempunyai beragam pengalaman yang telah berhasil menggerakkan bangsa untuk
kepentingan bersama. Dengan kepedulian setiap insan Bangsa Indonesia diyakini
bahwa bangsa Indonesia akan dapat menanggulangi HIV/AIDS untuk kepentingan
generasi sekarang dan generasi masa mendatang.
3.2 Saran
1. Masyarakat membutuhkan edukasi
tentang bahaya penyakit HIV/AIDS dan bagaimana cara penularannya yang benar agar
stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dapat diluruskan.
2. Melalui
hak yang dimiliki oleh pemerintah untuk membuat kebijakan, agar sekiranya dapat
menyentuh kepada seluruh lapisan masyarakat sehingga dalam penerapan kebijakan
yang di buat oleh pemerintah mudah dilaksanakan dan dapat dirasakan oleh
seluruh masyarakat.
3. Pemerintah
bersama jajarannya selalu sigap dalam menangani masalah HIV/AIDS sehingga
penularannya dapat di cegah sehingga tidak banyak jatuh korban yang berujung kepada
kematian.
4. Pemerintah
bisa menjadi tauladan bagi masyarakat sehingga perilaku yang berisiko HIV/AIDS
dapat dicegah. Selain itu agar kiranya pemerintah selalu memperhatikan alokasi
dana dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap penderita HIV/AIDS
DAFTAR
PUSTAKA
Adler
MW, 1993. Peunjuk Penting AIDS edisi 3. Jakarta : EGC pp. 1-92
Coad
J, Dunstall M, 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Bidan. Jakarta : EGC.
Cunningham
FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD, 2005. Obstetri
Williams edisi 21 vol I, Jakarta : EGC.
Daili,
2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP. pp. 932-933
Depkes RI,
2008. Pedoman Pelayanan Konseling dan Testing HIV/AIDS secara Sukarela (Voluntary
Counselling and Testing). Jakarta.
http://daerah.sindonews.com/read/986368/21/223-ibu-hamil-di-jabar-positif-hiv-1428409700
Kusniati,
N dkk. Modul 4 : PMS & HIV/AIDS. Jakarta : PKBI, IPPF, UNFBA
Manuaba,
Ida Ayu Chandranita, dkk. 2008. Patologi
Obstetri. Jakarta : EGC
Susanti NN. 2000. Psikologi
Kehamilan. Jakarta: EGC.